Thursday, April 9, 2015

Artikel Model Pembelajaran

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN JURNAL UMUM PERUSAHAAN
DAGANG MELALUI  MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI
KELAS XII IPS-1 SMA NEGERI I BUNGURAN TIMUR LAUT NATUNA




RINA HOTMA A.R SIAHAAN


Administrasi Pendidikan Kosentrasi Kepengawasan



ABSTRAK




Lemahnya proses pembelajaran menjadi salah satu penyebab ketidakmampuan peserta didik memecahkan masalahnya sendiri, tidak sanggup menggali potensinya, dan menjadi tidak kreatif dan inovatif, serta cenderung pasif, sehingga dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dapat menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk menganalisis model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan menyusun jurnal umum perusahaan dagang pada peserta didik kelas XII IPS-1 SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna; (2) Meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna; (3) Merangsang keingintahuan peserta didik tentang pentingnya materi akuntansi; (4) menantang kemampuan peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru. Untuk mengetahui hasil belajar dilakukan dengan penilaian melalui tes. Sedangkan aktifitas belajar dilakukan dengan lembar pengamatan guru. Hasil perhitungan dan analisis data yang diperoleh menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar dan aktivitas belajar menunjukkan bahwa pada setiap siklus mengalami peningkatan; (2) Dapat meningkatkan pemahaman akan manfaat belajar akuntansi; (3) Merangsang keingintahuan peserta didik tentang akuntansi. Oleh karena itu disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar jurnal umum perusahaan dagang pada mata pelajaran ekonomi akuntansi. 




Kata kunci : Hasil Belajar, Pembelajaran Berbasis Masalah, Jurnal umum




PENDAHULUAN


Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beraneka ragam dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi. Mata pelajaran ini mencakup dua aspek ilmu yaitu ekonomi umum dan akuntansi. Ekonomi umum mencakup teori-teori mikro dan makro, manajemen serta perkoperasian, sedangkan akuntansi bagian dari integral ekonomi mencakup kegiatan akuntansi perusahaan jasa dan perusahaan dagang.

Keberhasilan proses belajar mengajar akuntansi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain guru dan peserta didik. Peserta didik merupakan sasaran pendidikan sekaligus sebagai salah satu barometer dalam penentuan keberhasilan proses pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran akuntansi di sekolah, sebagian besar guru masih menerapkan metode pembelajaran ceramah sebagai metode utama.

Guru memulai pelajaran dengan pemaparan materi, kemudian pemberian contoh soal dan mengevaluasi peserta didik melalui latihan soal atau tes tertulis. Peserta didik menerima pelajaran secara pasif dan bahkan hanya menghafal cara mengerjakan siklus akuntansi tanpa memahami makna dan manfaat dari apa yang dipelajarinya. Hal ini mengakibatkan hasil belajar akuntansi di sekolah masih relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti, padahal akuntansi yang termasuk dalam mata pelajaran ekonomi merupakan salah satu materi yang diuji-nasionalkan.
Berdasarkan refleksi awal yang dilakukan guru peneliti bertempat di SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut pada kelas XII IPS-1, diketahui bahwa nilai rata-rata ulangan harian adalah 62 dengan ketuntasan klasikal sebesar 60%. Sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran ekonomi sebesar 70. Hasil pengamatan aktivitas belajar peserta didik yang diamati oleh guru teman sejawat sebagai observer, setelah dilakukan analisis sebesar 49% (kriteria kurang). Dari hasil refleksi awal dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tidak tuntas dan aktivitas belajar peserta didik kurang.

SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut terletak di kepulauan Natuna. Pulau terluar paling utara di NKRI yang berbatasan dengan negara Malaysia, Filipina dan Vietnam. “Gerbang Utara” yang dikelilingi lautan dimana peserta didiknya adalah masyarat pesisir yang tidak memungkinkan memperoleh banyak sumber belajar selain dari yang tersedia di sekolah. Jarak tempat tinggal sebagian peserta didik sangat jauh dari sekolah dan harus ditempuh berjalan kaki selama 1,5 jam. Fasilitas yang tersedia di sekolah belum sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Lingkungan sosial ekonomi yang belum dapat disetarakan sama seperti kecamatan yang lainnya. Peserta didik cenderung memilih menyelesaikan pendidikan hanya pada tingkat SMA atau sederajatnya. Pada umumnya peserta didik menganggap bahwa beberapa mata pelajaran tertentu termasuk akuntansi yang terintegral dalam mata pelajaran ekonomi tidak perlu dipelajari, sehingga peserta didik kurang berminat dan bersemangat dalam aktivitas pembelajaran dan akhirnya proses belajar mengajar sering kurang maksimal.

Namun yang menjadi permasahan utama peserta didik dalam belajar akuntansi disebabkan beberapa faktor antara lain : (1) metode mengajar yang digunakan lebih banyak metode ceramah; (2) kurangnya buku akuntansi dan buku referensi yang relevan sebagai sumber belajar; (3) sebagian peserta didik kurang berminat belajar akuntansi; (4) proses pembelajaran kurang menarik ; (5) peserta didik menganggap pelajaran akuntansi merupakan pelajaran yang tidak penting dalam kehidupan sehari-hari; (6) peserta didik tidak mau bertanya meskipun tidak mengerti.
Pembelajaran akuntansi sebaiknya tidak hanya berorientasi pada hasil belajar, tetapi bagaimana hasil belajar tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran seharusnya tidak hanya berorientasi pada materi pelajaran, tetapi berorientasi pada kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang diharapkan dapat merefleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Peserta didik harus diupayakan menjadi subyek belajar yang aktif mengkontruksikan atau membangun sendiri pemahaman terhadap materi yang dipelajari, sedangkan guru sebaiknya berperan sebagai fasilitator dan mediator yamng kreatif agar peserta didik dapat belajar dalam situasi yang menyenangkan. Oleh karena itu pembelajaran akuntansi seharusnya dikaitkan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik, sehingga menjadi bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi antara peserta didik dengan materi pelajaran dapat berlangsung apabila materi itu sesuai dengan perkembangan intelektual peserta didik dan cocok dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik, sehingga materi tersebut bermakna.
Salah satu pendekatan pembelajaran akuntansi yang mengaitkan pengalaman kehidupan nyata peserta didik dengan pembelajaran akuntansi dapat dilakukan dengan pembelajaran kontekstual atau Contektual Teaching and Learning (CTL). Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksikan atau membangun pengetahuan atau ketrampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang dialami peserta didik dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep pemebelajaran yang berlaku saat ini. Salah satu model pembelajaran kontekstual adalah Pembelajaran Berbasis Masalah.
Pembelajaran berbasis masalah (PBM) didefinisikan sebagai suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal untuk mengakuisisi pengetahuan baru. Peserta didik belajar menggunakan masalah autentik tertentu untuk belajar konten (isi) pelajaran sebaliknya peserta didik juga belajar keterampilan khusus untuk memecahkan masalah dengan menggunakan sarana konten pelajaran. PBM ini cocok digunakan dalam materi pokok siklus akuntansi jenis perusahaan dagang.
Siklus akuntansi adalah suatu proses pencatatan , pengikhtisaran dan pelaporan transaksi keuangan. Faktor yang paling menentukan keakuratan laporan siklus akuntansi (laporan keuangan) adalah analisa bukti transaksi dan proses pencataan bukti transaksi. Untuk itu model pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadap materi ajar tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan menyusun Jurnal umum pada peserta didik kelas XII Program Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut.


Tujuan penelitian ini adalah:


  1. Untuk menganalisis model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan menyusun jurnal perusahaan dagang pada peserta didik kelas XII IPS-1 SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut. 
  2. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut. 
  3. Meningkatkan aktivitas belajar peserta didik SMA Negeri 1 Bunguran Timur. 
  4. Dapat meningkatkan pemahaman akan manfaat belajar akuntansi. 
  5. Merangsang keingintahuan peserta didik tentang akuntansi. 
  6. Menantang kemampuan peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru. 

Penulisan laporan penelitian ini bermanfaat:


  1. Bagi peserta didik: secara keseluruhan meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Ekonomi. 
  2. Bagi guru: dapat menggunakan model pembelajaran berbasis masalah sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif dan dapat menciptakan suasana belajar yang kreatif, produktif dan menyenangkan. 
  3. Bagi sekolah: Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam peningkatan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. 
  4. Bagi peneliti: Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan, acuan dalam rangka menindaklanjuti penelitian ke depan dan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi. 




KAJIAN PUSTAKA


Kemampuan 

Didalam kamus Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata ‘mampu’ yang berarti kuasa (bisa, sanggup melakukan sesuatu, dapat). Kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan mampu apabila bisa melakukan sesuatu yang ia harus lakukan. Menurut Akmad Sudrajat menghubungkan kemampuan dengan kecakapan (Ian 2012:1). Menurut shooving (2012:2) Kemampuan merupakan ketrampilan seseorang untuk dapat menyelesaikan sesuatu. Hal ini berarti bila seseorang terampil dengan benar menyelesaikan masalah maka orang tersebut memiliki kemampuan dalam menyesaikan soal. Dalam penelitian ini, kemampuan siswa didefenisikan sebagai kesanggupan siswa dalam menyusun jurnal perusahaan dagang dengan mempergunakan konsep-konsep dasar yang diketahui dengan bantuan pengetahuan.


Jurnal umum perusahaan dagang

Jurnal umum adalah daftar yang mencatat semua bukti-bukti transaksi-transaksi perusahaan secara kronologi (Alam S: 2007). Jurnal umum terdiri dari kolom tanggal transaksi, kolom perkiraan (akun), kolom refrensi dan kolom debet/kredit. Jurnal umum berguna sebagai media dalam pencatatan transaksi dari buku harian ke akun buku besar dan menjaga keseimbangan jumlah debit kredit. Pencatatan didasarkan pada bukti transaksi berupa faktur, kuitansi, nota kredit, nota debit dan memorial post.



Menurut Alam S. fungsi jurnal umum adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi historis adalah media untuk mencatat transaksi menurut urutan tanggal kejadian. 
  2. Fungsi mencatat adalah media untuk mencatat keseluruhan transaksi ekonomi yang terjadi pada perusahaan. 
  3. Fungsi analisis adalah menganalisis transaksi dalam menentukan besarnya akun yang didebit dan akun yang dikredit. 
  4. Fungsi instruktif adalah memerintahkan pencatatan akun debit dan akun kredit ke dalam buku besar sesuai jumlahnya. 
  5. Fungsi informatif adalah memberikan keterangan kegiatan usaha perusahaan 



Sebelum menyusun jurnal peserta didik harus mampu menganalisis transaksi serta mekanisme debit kredit dengan benar. Apabila jurnal yang dilakukan salah maka akan terjadi kesalahan pada tahapan siklus berikutnya atau secara keseluruhan akan salah. Mengingat jurnal merupakan tahap pertama dalam siklus akuntansi.


Model  Pembelajaran

Model pembelajaran adalah kegiatan guru dan peserta didik dalam kaitannya dengan bahan pengajaran. Model - model pembelajaran biasany disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan, teori psikologi, sosiologis, analisis, analisis sistem, atau teori-teori lainnya yang mendukung (Joyce & Weil:1980). Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk rencana pembelajaran jangka panjang, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Menurut Markaban (2008:12) model pembelajaran adalah pola komprehensif yang patut dicontoh, menyangkut bentuk utuh pembelajaran, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Sedangkan pendekatan pembelajaran adalah cara pandang terhadap pembelajaran dari sudut tertentu untuk memudahkan pemahaman terhadap pembelajaran yang selanjutnya diikuti perlakuan pada pembelajaran tersebut.


Dasar pertimbangan pemilihan model pembelajaran:

  1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai 
  2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran. 
  3. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau peserta didik. 
  4. Pertimbangan lainnya yang bersifat non teknis, artinya pemebelajaran memiliki nilai efektifitas dan efisiensi. 

Guru dituntut dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap peserta didik untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu alternatif model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berpikir peserta didik (penalaran, komunikasi, dan koneksi) dalam memecahkan masalah adalah pembelajaran berbasis Masalah (PBM).


Model Pembelajaran Berbasis Masalah 

Pembelajaran berbasis masalah diperkenalkan pada awal tahun 1970-an di Universitas Mc Master Fakultas Kedokteran Kanada, sebagai satu upaya menemukan solusi dalam diagnosis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sesuai situasi yang ada. Ibrahim dan Nur (2000:2) mengemukakan bahwa Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi peserta didik dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Masalah dapat mendorong keseriusan, inquiry dan berpikir dengan cara ssyang bermakna dan sangat kuat (powerful).

Model pembelajan berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Peserta didik diharapkan aktif berpikir, berkomunikasi, mencari, mengolah dan menyimpulkan.

Untuk mengimplementasikan model pembelajaran berbasis masalah, guru memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan.


Karakteristik Pembelajaran berbasis masalah adalalah:

  1. Permasalahan menjadi starting poin dalam belajar.
  2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur. 
  3. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik, sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. 
  4. Pembelajaran membutuhkan perspektif ganda (multiplenperspektif).
  5. Belajar pengarahan diri menjadi yang utama. 
  6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaanya, dan evaluasi sumber informasi merupakan pfroses yang esensial dalam PBM. 
  7. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. 
  8. Pengembangan ketrampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
  9. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesisi dan integrasi dari sebuah proses belajar 
  10. PBM melibatkan evaluasi dan review pengalaman peserta didik dan proses belajar. 




Pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.

Ibrahim dan Nur (2000:2) mengemukakan tujuan PBM secara lebih rinci, yaitu: (1) membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah; (2) belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata; (3) menjadi para peserta didik yang otonom.


Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

  1. Orientasi peserta didik pada masalah.
  2. Mengorganisasi peserta didik untuk belajar.
  3. Membimbing pengalaman individual/kelompok.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. 



Menurut Hamruni (2012:114) model PBM memiliki keunggulan dan kelemahan


1. Keunggulan 

Sebagai suatu model pembelajaran, PBM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

a) Merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isis pelajaran

b) Meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa

c) Membantu siswa mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan

d) Lebih menyenangkan dan disukai siswa

e) Mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar meskipun belajar pada pendidikan
formal telah berakhir



2. Kelemahan


a) Ketika siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, mereka aqkan merasa enggan untuk mencoba

b) Keberhasilan pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan

c) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari.




METODE

Tempat dan waktu Penelitian

Tempat Penelitian ini dilakukan pada kelas dimana peneliti bertugas sebagai guru, yaitu kelas XII IPS-1 SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut Natuna, dengan peserta didik sebanyak 20 orang yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XII Jurusan IPS .Waktu penelitian dilaksanakan pada mata pelajaran Ekonomi dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 x 45 menit. Guru observer adalah teman sejawat peneliti yang juga sebagai guru ekonomi di sekolah yang sama dimana penelitian ini dilakukan, yaitu Gusmayeni, SE.

Penelitian ini dirancang sebagai bentuk kajian reflektif untuk memperdalam pemahaman terhadap tindakannya, serta pemperbaiki kondisi pembelajaran dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK). Pada PTK ini pelaku berupaya memperbaiki suatu kasus kelas yang menyebabkan rendahnya kemampuan peserta didik terhadap penyususnan jurnal umum. Penelitian yang dilaksanakan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas atau classroom action research, yaitu penelitian tindakan kelas di sini adalah kolaboratif partisipatoris, yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru atau teman sejawat di lapangan dimana peneliti terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu model pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Data hasil pengamatan guru dan hasil tes dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui nilai masing-masing peserta didik sehingga dapat dilihat persentase ketuntasan belajar individual maupun klasikal. Data yang dianalisis adalah :



1.    Tingkat aktifitas belajar peserta didik dari pengamatan aktivitas dihitung menggunakan         rumus:
                                                                 Jumlah skor yang diperoleh
         Tingkat Pencapaian =     ----------------------------------  x 100%
                                                        Skor maksimum
           
Skala tingkat pencapaian aktivitas belajar sebagai berikut :
No
Taraf Pencapaian Aktifitas Belajar
Skala
1
Baik
76% - 100%
2
Sedang
51% - 75%
3
Kurang
26% - 50%
4
Sangat Kurang
0% - 25%

2.    Ketuntasan belajar individual dihitung menggunakan rumus :
                                                                                  
                                                                              Jumlah skor yang diperoleh
        Ketuntasan Belajar Individual =             ---------------------------------  x  100%
                                                                                             Skor maksimum

      3.    Prosentase Ketuntasan Belajar dihitung dengan menggunakan rumus :

                                               
                                                   Jumlah skor yang diperoleh
         Ketuntasan Belajar   =      ---------------------------------  x  100%
                                                                            Skor maksimum


Indikator atau tolak ukur keberhasilan tindakan dari setiap siklus yang dilaksanakan adalah KKM peserta didik digunakan patokan ketuntasan individual sebesar 70, sedangkan untuk prosentase ketuntasan belajar sebesar 85%. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rencana atau belum dan melihat kelemahan-kelemahan yang ada selama pembelajaran berlangsung. Data hasil wawancara untuk mengetahui kelemahan peserta didik yang belum mencapai sasaran.
Data yang diperoleh dari hasil tes kemampuan menyusun jurnal umum  dan pengamatan guru observer dianalisis, serta hasilnya dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi ini peneliti melakukan diskusi dengan teman sejawat sebagai observer setelah selesai proses pembelajaran. Refleksi dilakukan untuk mengetahui (1) kelebihan dan kelemahan pembelajaran, (2) pemecahan masalah, dan (3) perbaikan pembelajaran yang selanjutnya akan dilakukan.

Hasil pengamatan guru 
pra penelitian disajikan sebagai berikut:

  1. Rata-rata nilai adalah 62, ini berarti dibawah KKM sebesar 70.
  2. Ketuntasan belajar individu sebanyak 12 siswa atau 60% dan siswa yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 8 siswa atau 40%.
  3. Aktivitas belajar peserta didik sebesar 49% atau kategori kurang.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajarnya peserta didik kelas XII IPS-1 belum mencapai KKM serta aktivitas belajar siswa masih kategori kurang atau rendah. Hasil-hasil pra-penelitian tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk merancang tindakan pada siklus I.
Deskripsi data atau temuan penelitian disajikan dalam empat tahapan sesuai dengan komponen siklus PTK sebagai berikut:
a.     Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan ini menghasilkan beberapa hal sebagai berikut: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Lembar Kerja Peserta didik (LKS), (3) Materi pembelajaran, yaitu buku paket pendukung, (4) Media pembelajaran, yaitu infokus, kertas karton, pensil warna, (5) instrumen Pengumpul Data: Soal tes tertulis, lembar pengamatan, dan lembar wawancara.


b.     Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pembelajaran terdiri dari  kegiatan awal, yaitu: (1) Guru memberikan pertanyaan tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi jurnal umum, (2) peserta didik diberikan penjelasan tentang materi yang akan dibahas dan manfaat mempelajari materi tersebut, (3) peserta didik diberi penjelasan tentang model pembelajaran yang akan digunakan, (4) guru meminta peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah dan guru membagikan LKS.  Kegiatan inti menggunakan  model pembelajaran berbasis masalah yang  terdiri dari kegiatan: (1) peserta didik dikelompokkan kedalam kelompok yang berjumlah 3-4 orang yang heterogen untuk melakukan diskusi kelompok, (2) peserta didik melakukan diskusi kelompok dan mengorganisasikan tugas belajar dalam bimbingan guru, (3) guru mendorong peserta didik menganalisis transaksi, membuat mekanisme debit kredit dan menyusun jurnal sebagai pemecahan masalah transaksi keuangan, serta mengisi LKS sesuai dengan hasil diskusi kelompok, (4) guru membantu dan mengarahkan peserta didik menyiapkan karya hasil diskusi dalam kertas karton. (5) peserta didik memajang hasil diskusi kelompok, (6) peserta didik mempresentasikan hasil karyanya didepan kelas, guru sebagai fasilitator dan moderator, (7) masing-masing kelompok memberikan penilaian hasil karya kelompok lainnya dengan menempel kertas skor 1 – 4 Karya kelompok terbaik diberikan penghargaan,(8) guru menjelaskan materi yang kurang dimengerti peserta didik. Pada kegiatan penutup : (1) peserta didik dibimbing untuk mengambil kesimpulan materi yang telah dibahas, (2) peserta didik diminta untuk mengerjakan soal, (3) refleksi, (4) peserta didik diberikan tugas PR.


c.     Observasi

Selama proses perbaikan pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan oleh guru teman sejawat dan observer tentang aktivitas guru dan aktivitas belajar peserta didik dengan menggunakan lembar observasi yang tersedia, serta menilai proses pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan guru dalam kegiatan pembelajaran dinilai secara kualitatif dan digunakan untuk mengukur aktivitas belajar peserta didik.


d.     Refleksi

Data yang diperoleh dari hasil tes kemampuan menyusun jurnal umum  dan pengamatan guru observer dianalisis, serta hasilnya dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi ini peneliti melakukan diskusi dengan teman sejawat sebagai observer setelah selesai proses pembelajaran. Refleksi dilakukan untuk mengetahui (1) kelebihan dan kelemahan pembelajaran, (2) pemecahan masalah, dan (3) perbaikan pembelajaran yang selanjutnya akan dilakukan.


HASIL DAN PEMBAHASAN
                

Dari hasil keseluruhan siklus diperoleh informasi bahwa model pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran jurnal umum perusahaan dagang. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata kelas dan meningkatnya prosentase aktivitas belajar peserta didik yang diamati oleh guru, sebagaimana tergambar dalam grafik berikut ini :
Grafik 1.
Nilai Rata-Rata Hasil Tes Kemampuan Jurnal Umum

Mencermati grafik di atas, dapat dianalisis sebagai berikut :
Rata-rata nilai kelas dalam siklus I sebesar 65, siklus II sebesar 70 dan dalam siklus III sebesar 76.
Grafik 2.
Ketuntasan Belajar Menyusun Jurnal Umum
Dengan memperhatikan grafik di atas, dapat dianalisis sebagai berikut :
1.   Hasil tes siklus I sebanyak 14 peserta didik (70%) telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 30% belum tuntas. Siklus II, sebanyak 75% peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 25% peserta didik belum tuntas. Pada  siklus III, sebanyak  85% peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 15% peserta didik  belum tuntas.
2.  Terdapat peningkatan ketuntasan belajar peserta didik sebesar 5% dari siklus I ke siklus II, dan sebesar 10% pada  siklus II ke siklus III.
Tabel 1
Rekapitulasi Hasil Pengamatan Guru Mata Pelajaran Ekonomi Akuntansi
Aktifitas Belajar
Siklus I
Siklus II
Siklus II
 Hasil Pengamatan Guru
57%
Sedang
69%
Sedang
78%
Baik
Grafik 3.
Aktifitas Belajar Ekonomi Akuntansi Peserta didik
Grafik di atas mendeskripsikan :

1.  Pencapaian tingkat aktivitas belajar peserta didik berdasarkan pengamatan guru dalam          siklus I sebesar 57%, siklus II sebesar 69%  dan siklus III sebesar 78%.

2. Terdapat peningkatan aktivitas belajar peserta didik berdasarkan pengamatan guru                  sebesar 12% dari siklus I ke siklus II dan sebesar 9% pada siklus II ke siklus III.


Sehubungan hal tersebut, berarti peningkatan kemampuan belajar jurnal umum perusahaan dagang pada mata pelajaran ekonomi akuntansi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada peserta didik kelas XII IPS-1 SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut telah mencapai standar yang diharapkan, yaitu dengan ditunjukkan hasil tes   pada siklus III telah mencapai nilai rata-rata 78 dan ketuntasan belajar 85%. Sedangkan standar KKM yang diharapkan adalah peningkatan hasil belajar hingga mencapai nilai 70 dengan ketuntasan belajar  85%. Peserta didik yang belum tuntas atau nilainya dibawah KKM  sebanyak 3 peserta didik diberikan perbaikan atau remedial.
                
Dari hasil siklus III diperoleh informasi bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran jurnal umum perusahaan dagang. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar dan meningkatnya prosentase aktivitas belajar peserta didik yang diamati oleh guru.

Dalam pelaksanaan penelitian ini, keunggulan-keunggulan dari model pembelajaran berbasis masalah terbukti nyata pada materi jurnal umum yang telah di teliti.




PENUTUP



Simpulan


Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan menyusun jurnal perusahaan dagang pada peserta didik kelas XII IPS-1 SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut.
  2. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi akuntansi, khususnya pada materi jurnal umum perusahaan dagang.
  3. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik.
     

  4. Model pembelajaran berbasis masalah terbukti efektif meningkatkan pemahaman peserta didik tentang materi akuntansi.
  5. Peserta didik lebih terangsang untuk lebih banyak mengetahui tentang akuntansi 
  6. Peserta didik tertantang untuk menemukan pengetahuan baru.


Saran

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :


  1. Apabila guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru perlu memperhatikan dalam pembagian kelompok peserta didik, jika heterogen maka guru harus mampu meningkatkan rasa kebersamaan, koordinasi, tutor sebaya dan tanggung jawab dalam belajar, agar diskusi dapat berjalan sesuai dengan skenario yang telah dibuat. 
  2. Demi keberhasilan pembelajaran, hendaknya sekolah lebih mampu menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, dan dalam kondisi baik, terutama tempat dan sarana pembelajaran. Pembelajaran ekonomi yang berkaitan dengan keadaan lingkungan social harus dikembangkan sejalan dengan perkembangan sosial di masyarakat, sehingga peserta didik lebih merasakan manfaatnya mempelajari dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
  3. Guru lebih kreatif memilih model pembelajaran sesuai dengan materi yang akan di bahas dengan demikian peserta didik dapat lebih aktif dan komunikatif.
  4. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, perlu dukungan pemerintah, terutama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk senantiasa peduli dan tanggap terhadap kebutuhan sekolah, baik dukungan dana maupun sarana prasarana pendidikan seperti pembangunan gedung, menyalurkan buku, alat peraga dan sarana pembelajaran lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah, sehingga sarana dan prasarana tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Matematika.
Jakarta : Ditjen Manajemen Pendidikan Daar dan Menengah.

Ibrahim, Muslim. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.

Sudjana, N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Hamruni. (2012). Strategi Pembelajaran. Yogyakarta : Insan Madani.

Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wijaya Kusumah. (2012). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Indeks

aumfield, Vivienne. (2009). Action Research di Kelas. Jakarta : Indeks.

Arifah. (2012). Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta : Mentari

Alam,S. (2008). Ekonomi Kelas XII. Jakarta : Erlangga

No comments:

Post a Comment